Biografi Singkat

<aside>

artjog.id

artjog.id

Akrab dengan dunia seni dan budaya sejak kecil, Subandi Giyanto (lahir di Bantul, 1958) mulai belajar menatah dan menyungging wayang kulit gaya Yogyakarta sejak berusia 7 tahun. Ia merupakan perupa, pelaku budaya, dan pensiunan guru dengan praktik berkesenian yang berfokus pada pada wayang kulit, mural, dan lukisan. Ia banyak memuat corak tradisional dalam karyanya, misalnya figur punakawan dalam karya lukisnya. Fenomena baru yang diangkat dalam karyanya, yang berbentuk mobil, merupakan perjalanan panjang pencarian identitasnya. Sejak 2009, Subandi mengembangkan dan melahirkan beberapa inovasi dalam praktiknya, seperti membuat mural, atas saran Samuel Indratma.

</aside>

Latar Belakang & Pendidikan

<aside>

Subandi Giyanto telah akrab dengan dunia pewayangan dan mulai mencari penghasilan dari kerajinan tatah sungging sejak usia dini. Ketertarikan alaminya terhadap seni kemudian diperdalam melalui pendidikan formal. Pada tahun 1975, beliau melanjutkan pendidikan di Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI) yang pada 1977 berganti nama menjadi Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR). Di masa sekolah inilah, beliau mulai mengenal beragam disiplin seni rupa di luar wayang kulit dan berinisiatif mengembangkan keterampilannya dari seorang perajin wayang menjadi seniman lukis wayang.

</aside>

Proses Kreatif & Kekaryaan

<aside>

Dalam perjalanan kesenimannya, karya-karya Subandi selalu konsisten menonjolkan tema wayang murni. Beliau tidak hanya menciptakan wayang kulit untuk pementasan, tetapi juga melukis wayang pada media kanvas hingga media kaca. Untuk pembuatan wayang kulit, beliau sangat mengutamakan kualitas dengan menggunakan material kulit kerbau.

krjogja.com

krjogja.com

Bakat dan tekniknya yang memukau membuat lukisan wayangnya sangat diminati oleh para kolektor seni. Nilai jual karya beliau bervariasi mulai dari jutaan hingga puluhan juta rupiah, bergantung pada ukuran dan tingkat kerumitannya. Mahakarya dan kedisiplinannya tersebut mengantarkan beliau mendapat kepercayaan bergengsi, termasuk menjadi salah satu seniman langganan Istana Negara (sebagaimana liputan KRJogja).

</aside>

Dedikasi Sosial & Pelestarian Budaya

<aside>

Selain berkarya, sisi paling menginspirasi dari Subandi Giyanto adalah dedikasi penuhnya terhadap regenerasi seniman muda. Di tengah menyusutnya jumlah perajin di Gendeng, beliau mendirikan Rumah Seni Subandi Giyanto (Subandi Giyanto Art Studio) untuk menjaga agar kebudayaan ini tidak punah. Beliau rutin mengajak anak-anak hingga masyarakat umum untuk belajar tatah sungging. Karena semangat ini pula, sanggar beliau sering menjadi rujukan bagi program workshop berskala internasional, salah satunya bagi mahasiswa National University of Singapore.

instagram.com/subandigiyanto

instagram.com/subandigiyanto

</aside>


Rekam Jejak & Penghargaan